INFOSelamat Datang di Website Resmi PMII UNRAM - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.
Alumni Opini Rayon

Rayon Al Fatih Gelar Sowan Epistemik ke Kediaman Demisioner Ketua Komisariat PMII Universitas Mataram ke-4

Oleh: PMII UNRAM Dipublikasikan: Minggu, 12 Juli 2026


MATARAM — Dalam diskursus pergerakan intelektual Kader, kontinuitas sejarah dan hubungan emosional lintas generasi merupakan pilar fundamental guna menjaga marwah serta orientasi organisasi. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), jajaran Pengurus Rayon Al Fatih Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Mataram (UNRAM) melangsungkan silaturahmi ke kediaman sahabati Senior Baiq Dewi Anjani, demisioner Ketua Komisariat PMII UNRAM ke-4, di wilayah Mataram, pada Jumat malam pukul 19.40 WITA. Momentum sowan ini diikhtiarkan sebagai instrumen taktis yang komprehensif, tidak sekadar untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah , melainkan juga merawat transmisi sanad keilmuan dan perjuangan di tengah pusaran disrupsi zaman.

Dalam  tradisi intelektual Islam Nusantara, silaturahmi memiliki dimensi filosofis yang melampaui batas-batas perjumpaan fisik seremonial. Bagi aktivis aktivis mahasiswa, agenda ini merupakan wujud konkrit dari pengejawantahan kaidah ushul fiqh , yakni al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah  (merawat tradisi masa lalu yang luhur sambil mengakomodir inovasi baru yang lebih berkeadilan dan maslahat). Kehadiran pengurus Rayon Al Fatih di kediaman tokoh sejarah komisariat tersebut adalah bentuk kesadaran kolektif bahwa konstruksi pergerakan yang progresif mutlak membutuhkan fondasi sejarah yang presisi.

Pertemuan  yang berlangsung dalam balutan atmosfer kekeluargaan yang kental tersebut menjadi ruang dialektika yang produktif. Para kader muda tidak hanya menyimak rekam jejak jejak geopolitik kampus pada masa kepemimpinan Sahabati Baiq Dewi Anjani, tetapi juga membedah relevansi nilai-nilai perjalanan masa lalu dengan tantangan empiris sivitas akademika hari ini. Sebagai tokoh yang turut meletakkan batu pijakan eksistensi PMII di Universitas Mataram, wejangan beliau berfungsi sebagai kompas epistemik bagi pengurus rayon agar terhindar dari disorientasi gerakan dan alienasi kultural.

Terlebih lagi, silaturahmi ini membedah urgensi penguatan kapasitas kader sebagai agen kontrol sosial yang berpijak pada prinsip tawasuth  (moderat),  tawazun  (seimbang), tasamuh  (toleran), dan i'tidal  (tegak lurus). Tantangan transformasi sosial di era digital menuntut kader PMII di tingkat rayon sebagai dasar akar rumput kaderisasi untuk terus memelihara pemeliharaan nalar analitis tanpa harus mencerabut diri dari akar spiritualitas dan adab. Senioritas dalam kultur pergerakan diposisikan bukan sebagai hierarki otoritarian, melainkan sebagai oase kebijaksanaan (hikmah).

Melalui konsolidasi nilai dan gagasan yang terjalin pada Jumat malam tersebut, Pengurus Rayon Al Fatih memproyeksikan sebuah desain kaderisasi yang lebih inklusif dan membumi. Ikhtiar merawat silaturahmi ini dipastikan akan bermuara pada sinergi gerak struktural yang kokoh, memastikan bahwa denyut nadi perjuangan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Universitas Mataram senantiasa mengakhiri seirama dengan nafas ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Bagikan Informasi Ini: