Alumni
Opini
Berhala Kertas dan Runtuhnya Menara Gading di Langit Sahabat!
Oleh: Admin
•
Dipublikasikan: Jumat, 10 Juli 2026
Angin malam yang berhembus melintasi selat Bali hingga ke ufuk timur Nusa Tenggara seolah membawa bisikan duka yang teramat dalam. Di bawah temaram cahaya kedai kopi yang acap kali kita sucikan sebagai ruang dialektika, ada sebuah pementasan kolosal yang sedang berlangsung. Kita semua duduk melingkar merapal ayat suci pergerakan dengan mulut yang berbusa. Kita mengutuk penindasan dan menangisi penderitaan rakyat jelata. Namun begitu cangkir kopi tandas, jubah idealisme itu kita lucuti perlahan hingga telanjang bulat. Kita bergegas pulang menuju kuil baru untuk bersujud pada tuhan kecil yang kita pahat sendiri dari sebongkah ambisi buta. Tuhan kecil itu adalah kelompok kesayangan kita sendiri.
Betapa lucunya melihat komedi intelektual ini. Setiap sudut arena merasa menjadi pemegang kunci mutlak pintu surga kebenaran. Kelompok yang satu merasa paling mewarisi titisan darah kiai, yang lain menepuk dada sebagai inkarnasi dewa revolusi, dan sisanya memproklamirkan diri sebagai sang penjaga moral semesta. Dalam lanskap sosiologis, Antonio Gramsci mungkin akan menangis tersedu melihat konsep hegemoninya dibajak menjadi sekadar ajang pamer kekuatan siapa yang paling pintar mengumpulkan kerumunan buta. Kita telah terjerembab ke dalam kubangan yang disebut oleh Ibnu Khaldun sebagai Asabiyyah yang membusuk, sebuah fanatisme golongan sempit yang menggerogoti urat nadi akal sehat dari dalam tubuh kita sendiri. Kita tidak lagi mencari secercah kebenaran dari rahim ilmu, melainkan dari silsilah ketaatan pada sang kepala suku.
Sungguh sebuah kecerdasan tingkat tinggi yang patut dicatat dalam tinta emas sejarah kebohongan umat manusia. Para pembesar dan mereka yang menduduki takhta organisasi kini telah bermetamorfosis menjadi pesulap paling ulung. Mereka dianugerahi kemampuan magis merangkul bahu kawan dengan sangat hangat, menebar senyum paling menawan sedunia, sementara tangan yang lain sedang mengasah belati ketajaman untuk ditikamkan tepat di punggung saudara sendiri. Menikam dari tempat gelap dan menari gembira di atas bangkai komitmen kini dianggap sebagai kurikulum kecerdasan akademis yang paling mutakhir. Kalian para perajut jubah pengkhianatan ini mungkin merasa telah menaklukkan puncak gunung kekuasaan tertinggi. Namun sejarah adalah hakim yang tidak pernah tertidur pulas. Mahkota kebanggaan yang kalian kenakan saat ini hanyalah anyaman daun kering yang akan hancur menjadi debu saat angin badai peradaban berhembus menampar wajah kalian. Kalian memenangkan panggung tepuk tangan sesaat, tetapi kehilangan ruh kemanusiaan untuk selamanya.
Langit berbintang di atas sana seharusnya mengingatkan kita pada sebuah teguran ilahiah yang teramat agung. Tuhan semesta alam telah memotret fenomena konyol ini ribuan tahun lalu melalui firman-Nya, Surat Ar-Rum ayat 32 yang menjelaskan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka sendiri. Kesombongan dan kebanggaan palsu inilah yang mengubur dalam-dalam akar egaliterisme kita. Padahal rahim tempat kita dilahirkan adalah pesantren yang menolak keras sistem kasta. Senioritas bukanlah seorang fir'aun yang titahnya harus ditelan mentah bersama empedu kepatuhan tanpa syarat, dan junioritas bukanlah tumpukan anak tangga yang punggungnya bisa diinjak seenaknya untuk membangun menara eksistensi pribadi. Kata Sahabat yang kita lafalkan setiap kali menjabat tangan semestinya adalah mantra sakti pelebur batas usia, pembebas rantai hierarki, dan penyatu jiwa yang paling murni.
Di balik gemerlap lampu panggung kepalsuan ini, ada sepasang mata yang berkaca menatap kosong ke arah altar gerakan. Kepada kalian jiwa tulus yang tersingkirkan dari arena hanya karena menolak membeo pada titah sang dalang. Kepada kalian yang tubuhnya penuh sayatan dari belakang karena menolak menjadi bidak catur murahan. Tegakkan kepala kalian sekarang juga ke arah langit. Luka yang menganga di dada kalian hari ini adalah mahar paling suci dari sebuah proses pendewasaan spiritual. Keringat dan air mata kalian jauh lebih berharga dan mulia daripada tumpukan kertas keputusan yang lahir dari rahim konspirasi tengah malam. Jadikan sayatan kekecewaan itu sebagai kawah candradimuka untuk membuktikan bahwa nyala api integritas tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh samudra keserakahan sang penguasa.
Lalu di mana kalian bersembunyi wahai patung bernyawa yang hanya diam menyaksikan rumah sendiri dirayapi oleh koloni rayap kemunafikan. Bersembunyi di balik tameng netralitas saat saudara kalian diremukkan oleh mesin tirani tidak akan pernah menyelamatkan kalian dari pengadilan sejarah. Diamnya orang waras adalah karpet merah yang dibentangkan lebar bagi para badut gerakan untuk terus menari kesetanan. Sudah saatnya kita membakar habis berhala faksi yang merusak kejernihan langit akal sehat.
Mari kita seduh kembali kopi kejujuran di atas sebuah meja bundar yang sangat setara, tempat di mana tidak ada lagi belati yang disembunyikan di balik lengan baju, tempat di mana tidak ada lagi dusta yang dibungkus dengan dalil agama, dan tempat di mana kita kembali menjadi manusia utuh yang memanusiakan manusia lainnya.
